Tim Dosen FISIP UPBI Gandeng Mahasiswa dan Rumah Baca Inara Ajak Anak-Anak Rajin Membaca dan Berkomunikasi Positif

Tim Dosen FISIP UPBI Gandeng Mahasiswa dan Rumah Baca Inara Ajak Anak-Anak Rajin Membaca dan Berkomunikasi Positif

Pekanbaru, GarisKhatulistiwa.com — Suasana Minggu pagi (23/11/2025) di Lapangan Mushola Al Aqso, Perumahan Griya Kenari Indah, Kasang Kulim, Desa Kubang Raya, Kabupaten Kampar, tampak berbeda dari biasanya. Di area yang biasanya sunyi, hari itu terdengar riuh canda, tawa, dan suara anak-anak yang berkumpul memenuhi tenda kegiatan. 

Mereka datang dengan wajah ceria, sebagian membawa buku, sebagian lain menggenggam alat tulis, seolah tak sabar mengikuti rangkaian kegiatan yang sudah disiapkan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Persada Bunda Indonesia (UPBI).

Kegiatan ini dipimpin oleh tiga dosen Program Studi Ilmu Komunikasi: Ermairel, S.Pd., M.Si., Susi Artuti Erda Dewi, S.Sos., M.Si., dan Hefri Yodiansyah, S.Sos., M.I.Kom. Mereka menggandeng Rumah Baca Inara serta mahasiswa FISIP semester V dan VII, yang sejak awal sudah dilibatkan penuh sebagai bagian dari pembelajaran praktis di lapangan.

Tahun ini, Tim PKM UPBI mengangkat tema “Rajin Membaca, Berkomunikasi dengan Baik, dan Mempersiapkan Masa Depan Cerah.” Tema ini dipilih bukan tanpa alasan. Rumah Baca Inara dikenal sebagai ruang belajar komunitas yang dihuni anak-anak dengan rasa ingin tahu tinggi, kreatif, serta aktif berinteraksi.

Semangat itu yang menjadi alasan utama tim dosen menentukan fokus kegiatan pada penguatan literasi dan keterampilan komunikasi dasar sejak usia dini.

Sejak pembukaan, antusias anak-anak terlihat jelas. Mereka mengikuti permainan edukatif, membaca cerita bersama, hingga sesi komunikasi interaktif dengan penuh perhatian. Para mahasiswa yang bertugas sebagai pendamping pun terlihat sigap, ramah, dan mampu menyesuaikan diri dengan karakter anak-anak yang beragam.

Ketua Tim PKM UPBI, Ermairel, S.Pd., M.Si., tidak menyembunyikan rasa haru dan bangganya melihat sambutan hangat dari anak-anak dan masyarakat. 

“Kami ingin memotivasi anak-anak untuk rajin membaca dan berkomunikasi dengan baik. Ternyata mereka sangat antusias, aktif, dan semangat belajar. Masyarakatnya juga mendukung,” ungkapnya dengan mata berbinar.

Ibu Irel sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa kegiatan ini berawal dari permintaan pihak Rumah Baca Inara, yang ingin memberikan aktivitas pendidikan tambahan bagi anak-anak Perumahan Griya Kenari Indah. Jumlah anak yang terus bertambah serta minimnya ruang edukasi yang terstruktur menjadi alasan kuat mengapa PKM ini dianggap penting dan mendesak.

Tidak hanya dosen, mahasiswa yang berperan sebagai fasilitator juga merasakan pengalaman berharga dalam kegiatan ini. Mereka belajar bagaimana mengatur alur acara, mengelola dinamika kelompok, serta membangun komunikasi efektif dengan anak-anak dan masyarakat berbeda latar.

Bagi mahasiswa mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya, kegiatan ini menjadi sarana untuk menerapkan teori dalam situasi nyata. Mereka belajar langsung tentang sensitivitas budaya, cara menghadapi perbedaan karakter, hingga metode komunikasi kreatif yang dapat diterima anak-anak.

Sementara itu, Hefri Yodiansyah, S.Sos., M.I.Kom., menyampaikan bahwa kegiatan PKM kali ini berjalan sukses meskipun dilaksanakan dengan keterbatasan.

“Sebenarnya tim bisa saja bertambah menjadi lima orang. Tetapi karena keterbatasan ruang lingkup kerja, efisiensi, dan pembiayaan, sementara ini masih bertiga. Pembiayaan juga masih patungan, dana pribadi,” ujarnya.

Meski demikian, Hefri menegaskan bahwa semangat para dosen tidak surut. Ia optimis bahwa PKM mendatang dapat berkembang lebih besar, lebih terstruktur, dan mungkin didukung oleh mitra eksternal maupun kampus secara lebih luas. 

“Kami ingin tim ini semakin solid. Dengan alat dan sarana yang lebih baik, interaksi dengan masyarakat tentu bisa lebih maksimal,” tambahnya.

Susi Artuti Erda Dewi, S.Sos., M.Si., menjadi sosok yang paling ekspresif dalam menyampaikan rasa bangganya. “Saya sangat bahagia dan bangga. Di luar ekspektasi saya, ternyata sangat banyak peminat yang mengikuti PKM ini,” ujar wanita berlesung pipi itu.

Menurutnya, anak-anak Perumahan Griya Kenari Indah menunjukkan keberanian tampil, kemampuan berkomunikasi yang baik, serta sikap kooperatif. Ia menilai, jika potensi tersebut diasah sejak kecil, bukan tidak mungkin mereka menjadi bagian dari generasi emas Indonesia di tahun-tahun mendatang.

“Anak-anak di sini sangat interaktif. Saya yakin, dengan pendampingan sejak dini, mereka bisa menjadi generasi unggul 100 tahun Indonesia merdeka,” katanya penuh optimisme.

Tidak lupa, Susi menyampaikan pesan khusus bagi mahasiswa dan generasi muda, khususnya Gen Z. “Mahasiswa saya ini mau membantu, mau turun ke masyarakat. Itu nilai positif besar. Saya harap mereka tetap memiliki pendirian kuat dan menjauhi perilaku negatif seperti tawuran, kecanduan game, atau pergaulan destruktif,” tutupnya memberi nasihat.

Kegiatan PKM ditutup dengan sesi foto bersama. Dalam potret yang diambil, tampak keceriaan terpancar dari wajah anak-anak, mahasiswa, relawan Rumah Baca Inara, dan para dosen. Beberapa anak terlihat memeluk buku cerita yang mereka baca, sementara yang lain tertawa lepas saat difoto.

Suasana hangat itu menjadi penanda bahwa kegiatan ini bukan sekadar berlangsung, tetapi benar-benar meninggalkan kesan positif bagi masyarakat.

Di tengah perkembangan teknologi dan tantangan sosial yang kian kompleks, kegiatan sederhana berbasis komunitas seperti ini menjadi sangat penting. Rumah Baca Inara, yang selama ini menjadi ruang belajar bagi anak-anak, kini mendapat energi baru melalui kolaborasi dengan UPBI.

Kegiatan PKM ini membuktikan bahwa sentuhan kecil dari para pendidik dapat memberikan dampak besar bagi generasi penerus bangsa. Anak-anak kembali diingatkan bahwa membaca itu menyenangkan, berkomunikasi itu penting, dan masa depan cerah dapat dipersiapkan sejak dini. (Rima)

 

 

TERKAIT